Qspinach's Blog- Informasi Untuk Perubahan Yang Lebih Baik

Risiko Kanker Payudara bagi Wanita Gemuk

Posted in Kegemukan by qspinach on March 4, 2010

WANITA gemuk lebih berisiko terserang kanker payudara dibanding mereka yang berberat badan normal. Pada mereka kanker payudara juga lebih cepat berkembang. Demikian hasil sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal National Cancer Institute, baru-baru ini.

Peneliti menyatakan ini tidak ada kaitannya dengan sedikitnya mammogram yang dilakukan wanita gemuk.

Menurut Dr Karla Kerlikowske sebagaimana dilansir Reuters Health, meski sudah memperhitungkan berapa kali mereka melakukan screening untuk mendeteksi kanker payudara, perempuan obesitas memiliki risiko menderita kanker payudara 10 % lebih tinggi. Adapun kemungkinan penyakit ini berkembang menjadi lebih parah sebesar 56 hingga 82 persen.

Selain itu peneliti juga menegaskan bahwa hal itu bukan karena mammogram kurang akurat bila dilakukan pada perempuan dengan berat badan berlebih. “Kami bisa menunjukkan bahwa deteksi tumor payudara bisa dilakukan dengan mudah pada mereka yang kelebihan berat badan.

Jadi peningkatan risiko penyakit ini bukan karena tidak terdeteksi oleh mammogram,” kata Kerlikowske.

“Hal yang patut diperhatikan adalah agar wanita secara rutin melakukan mammografi dan menjaga berat badan seimbang, dua hal yang bisa menurunkan kemungkinan mereka menderita kanker payudara,” tambah Kerlikoswke, dokter San Francisco VA Medical Center dan profesor kesehatan, epidemiologi, dan biostatistik Universitas Kalifornia, San Francisco.

Sejak tahun 1996 hingga 2005, Kerlikoswke dan koleganya mengumpulkan data mammografi pada 287.115 perempuan yang telah mengalami menopause dan tidak menjalani terapi hormon. Sebanyak 4.446 di antara mereka didiagnosis menderita kanker payudara setelah satu tahun menjalani uji mammografi.

Peneliti menemukan bahwa risiko penyakit ini semakin tinggi pada mereka yang obesitas.

“Penyebabnya kemungkinan karena pada wanitas obesitas sirkulasi estrogennya naik, sehingga dapat memicu pertumbuhan tumor,” jelas Kerlikowske.

Untungnya, tambahnya, ini adalah faktor risiko yang bisa dikendalikan. Caranya dengan menjaga berat badan ideal dan tidak mengonsumsi hormon postmenopause.

***

Makanan Tinggi Protein dan Obesitas

MAKANAN tinggi protein dapat membantu orang obesitas membakar lebih banyak lemaknya, demikian hasil sebuah penelitian kecil yang dilakukan Dr Marijka Batterham dan koleganya dari University of Wollongong, New South Wales.

Dalam studi baru ini para ilmuwan Australia menguji apakah komposisi protein pada makanan berpengaruh terhadap perbedaan berat badan. Mereka menemukan bahwa orang yang mengalami kelebihan berat badan lebih banyak membakar lemak tatkala mereka usai menyantap makanan yang mengandung protein tinggi.

Sejumlah studi telah menunjukkan bahwa diet tinggi protein dapat membantu orang menurunkan berat badan. Sebab, protein lebih mampu menekan hasrat ingin makan daripada lemak maupun karbohidrat.

Studi ini belum membuktikan, tapi ada harapan bahwa peningkatan pembakaran lemak bisa diartikan penurunan berat badan meski dalam waktu lama. Namun untuk memastikan hal ini masih diperlukan penelitian lanjutan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition & Dietetics ini didasarkan pada penelitian terhadap 18 orang dewasa yang metabolisme setelah makan-nya diuji selama tiga hari yang berbeda. Para partisipan rata-rata berusia 40 tahun, 8 diantaranya mengalami kegemukan, 6 normal, dan 4 obesitas.

Pada suatu hari mereka diberi sarapan dan makan siang yang menunya telah ditentukan, terdiri atas 58 persen karbohidrat dan 14 persen protein. Di waktu lain selama dua hari makanan mereka dibuat seimbang, terdiri atas sepertiga kalori yang berasal dari protein dan sepertiga lainnya dari karbohidrat.

Delapan jam setelah makan, peneliti menemukan bahwa mereka yang kelebihan berat badan dan obesitas membakar lebih sedikit lemak dibanding rekannya yang lebih kurus. Namun, perbedaan ini sirna ketika mereka mengonsumsi makanan tinggi protein.

Makanan kaya protein yang dimaksud antara lain adalah mentega rendah lemak, daging sapi tanpa lemak, telur, dikombinasikan dengan sayuran dan sumber karbohidrat.

Batterham menyatakan dia dan koleganya kini tengah menguji apakah sumber protein dari sayuran memiliki efek serupa pada metabolisme lemak orang yang kelebihan berat badan.

***

Penurunan Berat Badan Sembuhkan Diabetes

STUDI baru yang dipublikasikan dalam jurnal Asosiasi Kesehatan Amerika (American Medical Association) menunjukkan bahwa operasi penurunan berat badan dapat mengobati diabetes.

Dalam studi ini beberapa peneliti Australia mendapati bahwa pasien yang menjalani operasi untuk mengurangi ukuran perut memiliki peluang sembuh dari diabetes dua tahun setelah operasi lima kali lebih tinggi dibanding mereka yang menjalani perawatan kesehatan standar.

“Ini merupakan terapi terbaik bagi penderita diabetes yang kita miliki saat ini, dan risikonya sangat rendah,” kata pemimpin studi Dr John Dixon dari Monash University Medical School di Melbourne, Australia.

Dixon dan rekannya mempelajari 60 orang bertubuh gemuk dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 tapi kurang dari 40. Indeks massa tubuh, atau BMI, adalah rasio tinggi berbanding berat badan. BMI 30 atau lebih besar dipandang kegemukan.

Semua pasien tersebut kegemukan dan telah didiagnosis menderita diabetes jenis 2 selama dua tahun terakhir. Usia mereka rata-rata 47 tahun. Separuh pasien menjalani operasi lingkar perut, sedangkan selebihnya menjalani perawatan biasa.

Sepanjang studi, tim peneliti mengamati apakah ada kemungkinan penurunan berat badan melalui operasi dapat menjadi perawatan yang efektif bagi diabetes jenis 2.

Hasilnya diketahui sebanyak 75% pasien yang menjalani operasi lingkar perut, penyakit diabetesnya hilang dalam waktu dua tahun setelah operasi. Adapun pada mereka yang menjalani perawatan normal, hanya 13% yang sembuh dari diabetes.

Selain itu mereka yang menjalani operasi perut mengalami penurunan berat badan hingga 20,7% setelah dua tahun, jauh lebih tinggi dibanding penurunan berat badan yang dicapai oleh mereka yang menjalani terapi normal, hanya 1,7%.

“Suatu temuan penting dalam studi ini ialah tingkat turunnya berat badan, bukan metodenya, tampaknya menjadi penggerak utama peningkatan glycaemic dan hilangnya diabetes pada pasien bertubuh sangat gemuk,” kata Dixon.

“Ini memiliki dampak penting, karena ini menunjukkan bahwa terapi intensif penurunan berat badan mungkin menjadi langkah pertama yang lebih efektif dalam mengatasi diabetes daripada perubahan gaya hidup yang sederhana,” katanya.

Namun Dixon menyatakan sikap hati-hati diperlukan dalam menafsirkan manfaat jangka panjang operasi penurunan berat badan. (Nur Hidayatullah-13)

Suara Merdeka – 4 Desember 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: